Jumat, 13 September 2013

Kasus 1: Get over it!
Di awal mantan masih sering curhat dan ngajak jalan bareng, kita senang banget. Ternyata  dia belum terbiasa tanpa kehadiran kita. Begitu suasana makin garing, kita malah berdoa supaya mantan nggak melulu bersikap posesif atau mengandalkan (plus mengganggu) kita lagi.

Mendingan....
- Kalau nggak bisa dibilangin secara baik-baik, kita kudu tegas memutuskan hubungan dengan mantan. Cuekin semua telepon dan SMS-nya supaya dia segera nyadar dan nggak berharap lagi.
- Menghembuskan gosip bahwa kita sedang dekat/jadian dengan cowok keren lewat teman-teman mantan juga cukup ampuh, kok, bikin dia berpikir dua kali sebelum mencari kita.

Kasus 2: Belum lupa
Maunya, sih, kita cepat lupa setelah putus dari si dia. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang hilang setelah pacar jadi mantan. Setiap mau makan, tidur, atau beraktivitas, kita masih teringat semua kenangan indah bareng mantan—padahal sudah lewat tiga bulan. Mungkin nggak, sih, balik lagi?

Mendingan....
- Kalau memang masih sayang dan mantan belum punya gandengan baru, berarti kita kudu usaha, dong. Jangan lupa introspeksi diri supaya alasan putus dengan si dia nggak terulang lagi.
- Kita nggak perlu buang-buang waktu jika mantan sudah move on. Mending cari gebetan juga karena katanya, nih, obat paling ampuh buat ngobatin kehilangan pacar adalah dengan mencari pacar baru, he he he....

Kasus 3: Teroris bernama mantan

Paling susah menghadapi mantan si dia yang posesif. Sebagai cewek barunya, kita pasti dianggap rendah oleh mantan si dia. Bisa jadi karena dia belum rela kalau pacar memilih kita. Nggak heran segala bentuk teror dia lancarkan demi merusak hubungan kita dan si dia—uh, bikin gemas!

Kasus 4: We're (not) family
Saat pacaran bukannya nggak mungkin keluarga masing-masing menaruh harapan besar pada hubungan kita dan si dia. Apalagi kalau kita ternyata sukses mengambil hati keluarga si dia. Meski sudah putus (secara baik-baik) nyokap atau adiknya masih sering menghubungi kita dan mengajak belanja bareng.

Mendingan....
- Kalau kita tidak merasa terganggu kenapa harus pusing memikirkan reaksi mantan? Nikmati saja perhatian tulus dan kenyamanan yang ditawarkan oleh mereka. Lagipula tambah saudara, kan, lebih menyenangkan ketimbang menambah musuh, hi hi hi.
- Jika keluarga mantan ternyata punya misi lain untuk 'menyatukan' kita dan si dia berarti saatnya bicara. Jangan sampai keluarga orang lain yang mengatur jalan hidup kita! Tapi lakukan dengan sopan supaya nggak ada pihak yang sakit hati, ya....


Kasus 5: Kembali ke mantan

Kalau kita bisa melihat masa depan, mungkin kita akan memilih nggak perlu putus dengan si dia kalau akhirnya memutuskan jadian lagi—ehem! Biar hubungan langgeng dan bisa lanjut ke tahap lebih serius, kita bakal kerja ekstra, tuh.

Mendingan....
- Saat putus dari si dia pasti kita sibuk tebar pesona untuk mencari the perfect man. Kalau ternyata 'baliknya' ke mantan, mungkin tanpa disadari kita dan si dia sudah sama-sama berubah. Jadi nggak perlu lagi, deh, mengungkit-ungkit masa lalu kalau mau membangun masa depan.
- Bila ternyata kita mentok di masalah yang sama ketika putus dari si dia, jangan malu untuk memutuskan hubungan bila nggak ada solusi lain. Anggap saja bagian dari perjalanan dan pendewasaan diri kita—kadang kita kudu benar-benar jatuh supaya tetap ingat sakitnya.

Kasus 6: Mantan melirik sahabat
Kita bisa tertawa ketika menonton 'perputaran' pasangan di serial Gossip Girl. Begitu mantan pacar jadian dengan sahabat kita sendiri, baru, deh, panik! Jangan-jangan mereka ngomongin kita dari belakang, atau risiko paling nggak enak adalah kita bakal kehilangan sahabat gara-gara masalah cowok—hiks!

Mendingan....
- Jatuh cinta memang hak semua orang. Seandainya kita makan hati melihat kemesraan mantan dan sahabat, mending ngomong terus terang. Beri tahu sahabat soal ketidaknyamanan kita, siapa tahu sebenarnya dia juga pengen membahasnya tapi nggak berani membuka pembicaraan.
- Nggak perlu menceritakan semua kenangan kita dengan mantan kepada sahabat, dan sebaliknya. Ketika hubungan mereka bermasalah kita pun kudu berada di garis netral. Tapi sediakan kuping dan hati buat sahabat ketika dia sedang sedih maupun gembira—dan dilarang iri!

Kasus 7: Mantan 'berubah'
Kita, sih, nggak kaget kalau mantan pacar kita yang superkeren cepat dapat gandengan baru. Suatu saat kita bertemu lagi dengan si mantan dan dikenalkan dengan pacar barunya yang ternyata seorang cowok juga! Gubrak...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar